Rabu, 30 September 2015

Pemanfaatan Pertama kalinya Internet



Internet suatu teknologi yang terus berkembang pesatdengan penggunaan yang praktis dan dapat digunakan dimanapun untuk komunikasi, menyebarkan informasi bahkan sekarang ini digunakan sebagai jual beli atau online shop, dengan kemajuan internet sekarang ini jadi teringat dahulu pertama kalinya menggunakan internet dahulu yang pertama kali saya gunakan yaitu untuk membuat e-mail untuk akun social media saya yaitu facebook pada saat saya berumur 12 tahun, social media inilah yang dahulu menjadi kegunaan saya entah untuk sekedar mengobrol, games, bahkan bertukar suatu informasi .
Setelah facebook karna seringnya saya menggunakan ini sehingga membuat saya mengetahui lagi dunia luas nya internet ternyata dalam internet itu kita bisa mencari apapun, sehingga selain facebook saya gunakan untuk mencari tugas tugas sekolah saya kala itu karna melalui internet lebih mudah untuk mencari suatu pengetahuan bahkan yang tadinya tidak mengetahui apapun melalui internet ini jadi banyak cepat mengetahui dunia disekitar kita.
Selain facebook dan tugas pasti saya gunakan untuk hiburan, dulu ketika ingin melihat artis idola dalam maupun luar negeri dapat diakses dari sebelum dan sesudah dalam artian dari penampilan yang lama hingga terbaru dapat diakses terutama masalah music, dengan internet saya bisa mendengarkan secara online music yang dulu saya senangi, dan selain itu semua semakin hari semakin mengetahui banyak kegunaan bukan hanya facebook saja namun ada twitter dan hingga sekarang menjadi banyak sekali yang dapat saya akses yaitu whatsapp, bbm, line, e-mail, path, blog hingga saat ini hanya itu saja yang saya gunakan, yang kegunaanya saya gunakan untuk hal berkomunikasi atau sekedar ingin mengetahui suatu fitur yang di sediakan dan menurut saya setiap fitur diatas memiliki kehebatan tersendiri.
Dan dulu untuk pertama kalinya device yang saya gunakan yaitu computer, karna semua dapat dilihat tanpa ada batasan apapun namun hanya saja jika menggunakan computer hanya dapat digunakan disatu tempaat saja, hingga saat ini lebih menggunakan mobile karna pasti lebih mudah dibawa kemana-mana dan tetap dapat mengakses dengan baik apalagi mobile sekarang sudah sangat pesat dan canggih untuk mengakses apapun.
Terlihat jelas sekali pertama kali menggunakan internet dan hingga sekarang bahwa teknologi semakin di percepat dan diperbaiki sehingga kegunaan yang dahulu masih sekedar sederhana saja sekarang bisa dilakukan dengan cara yang lebih menarik.

Kamis, 30 April 2015

Diskusi ke-4

  1. Keberbakatan dan Kreativitas
    1. Jelaskan pengertian keberbakatan!
    2. Jelaskan pengertian kreativitas!
    3. Jelaskan hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas!
    B. Pembelajaran Anak Berbakat
          1. Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri anak berbakat!
          2. Jelaskan penerapan pembelajaran anak berbakat menurut teori Barbe & Renzulli!
          3. Jelaskan mengenai kegunaan kurikilum berdiferensiasi dan apa perbedaannya dengan kurikulum yang umum!


A.

1. Keberbakatan adalah kemampuan unjuk kerja yang tinggi di dalam aspek intelektual, kreativitas, seni, kepemimpinan atau bidang akademik tertentu. Dalam konsep luas dan terpadu, keberbakatan merupakan kecakapan intelektual superior, yang secara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademiak di dalam kelompok populasinya dan atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu, seperti matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan sosial dan perilaku kreatif tertentu dalam interaksidengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu ditampilkan secara konsisten.

2. Banyak buku yang membahas kreativitas, kelompok kami akan menyampaikan beberapa pendapat para ahli tentang kreativitas, yaitu:
a.    Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. (K B B I)
b.    Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan identitas                individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan          dengan orang lain. (Clark Moustatis)
c.    Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru yang menerapkannya        dalam pemecahan masalah. (Conny R. Semiawan).
d.    Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi,        dorongan untuk berkembang dan menjadi matang ,kecenderungan untuk                              mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (Rogers).
e.    Kreativitas  adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
       Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
    Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, memdidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak.
    Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat di lain waktu. (David Cambell)
        Dari beberapa uraian definisi di atas dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
        Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan/ menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992)
Kreativitas menurut Guilfird (1956) dapat dinilai dari ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas, maupun ciri-ciri non aptitude antar lain tempramen, motivasi, serta komitmen menyelesaikan tugas. 

3. Hubungan Keberbakatan & Kreativitas
    Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
     1.      Kemampuan umum di atas rata – rata,
     2.      Kreativitas di atas rata – rata, dan
     3.      Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)

  • Kemampuan diatas rata – rata
         Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.

  • Kreativitas diatas rata -rata
       Kelompok ( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
       Pengikatan diri terhadap tugas Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
       Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.

       Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
       Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas


B.

1. a.  Membaca lebih  cepat dan lebih banyak
    b.  Memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas
    c.  Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
    d.  Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa
    e.  Mempunyai inisiatif dan dapat bekerja sendiri
     f.  menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
    g.  Memberi jawaban-jawaban yang baik
    h.  Dapat memberikan banyak gagasan
     i.  Luwes dalam berpikir
     j.  Terbuka terhadaprangsangan-rangsangan dari lingkungan
    k.  Mempunyai pengamatan tajam
     l.  Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri
    m. Senang mencoba  hal-hal yang baru
     n. Berperilakuterarah kepada tujuan
     o. Mempunyai banyak kegemaran
     p. Tidakcepatpuas dengan prestasinya
     q. Peka (sensitive) dan menggunakan firasat (intuisi)
     r.  Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan

2. a. Percepatan (akselerasi)
     Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi (skipping). Sesuai dengan keadaannya di mana usia mental (mental age) pada anak berbakat lebih tinggi dari usia sebenarnya (cronological age), maka mudah timbul perasaan tidak puas belajar bersama dengan anak-anak lain seumurnya. Meskipun banyak aspek perkembangan lain pada anak ternyata memang lebih maju dari pada anak-anak seumurnya, misalnya aspek sosial, akan tetapi cara percepatan dengan meloncatkan anak pada kelas-kelas yang yang lebih ‘tinggi dianggap kurang baik, antara lain karena mempermudah timbulnya’ masalah-masalah penyesuaian, baik disekolah, di rumah maupun di lingkungan sosialnya. Percepatan yang diberikan kepada anak berbakat untuk menyelesaikan bahan pelajaran dalam waktu yang lebih singkat sesuai dengan kemampuannya yang istimewa.
b. Pendidikan dalam Kelompok khusus
1) Model A
    Kelas bisaa penuh ditambah kelas khusus (mini). Cara ini bisa dilakukan disetiap sekolah karena anak berbakat mengikuti secara penuh acara di sekolah dan setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dalam kelas khusus. Waktu belajarnya bertambah dan mata pelajaran dasar atau yang berhubungan dengan kemampuan khusus (misalnya matematika) ditambah.
2) Model B
    Pada model ini anak mengikuti kelas bisaa tetapi tidak seluruhnya (bisa 75%, 60%, 50%) dan ditambah dengan mengikuti kelas khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini menguntungkan anak sehingga ia masih mempunyai waktu untuk melakukan dalam mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya.
3) Model C
    Pada model ini semua anak berbakat dimasukan dalam kelas secara penuh. Kurikulum dibuat secara khusus demikian pula guru-gurunya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 
4) Model D
   Pada model ini, merupakan sekolah khusus yang hanya mendidik anak berbakat. Dari sudut administrasi sekolah jelas mudah diatur. Tapi dari sudut anak banyak kerugiannya karena dengan mengikuti pendidikan sekolah khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya dan menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa. 
c.Home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah). 
     Cara lain yang dapat ditempuh selain model akselerasi adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah atau di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Dalam home-schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya.
d. Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. 
     Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya. 

3. Kurikulum Berdifferensiasi
     Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulu menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Pengembangan kurikulum berdiferensiasi terutama menunjuk seuatu kebutuhan berkenan dengan tumbuh kembangnya kreatifitas seseorang. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku bagi semua siswa, kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk kelompok siswa berbakat. Melalui program khusus, siswa berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran, proses belajar dan produk belajar. 
     Clendeing&davies (1983) menjelaskan bahwa yang dimaksud differentiated adalah isi pelajaran yang menunjuk pada konsep dan proses kognitif tingkat tinggi, strategi instruksional yang akomodatif dengan gaya belajar anak berbakat dan rencana yang memfasilitasi kinerja siswa. 
Dalam kurikulum berdifferensiasi terdapat beberapa komponen yang harus ada diantaranya:
      1.  Materi pengalaman belajar yang menumbuhkan kreatifitas harus dipilih untuk        digemukkan dan dipadatkan dengan cara:
      2. Menambah bagian-bagian baru yang menarik dan merupakan tantangan bagi siswa berbakat
      3. Mengubah bagian-bagian yang kurang sesuai
      4. Mengurangi kegiatan-kegiatan yang rutin dan bersifat mengulang
      5. Terjadinya penanjakan dinamis mental dan tindakan kreatif (creative action)
      6. Berorientasi pada proses, kegiatan aktif dan penerapan tugas, serta memberi peluang kepada siswa untuk memilih sendiri kegiatan belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya
      7. Komponen yang bersifat tekhnis, seperti fasilitas, komposisi guru, pendekatan proses belajar mengajar dan penggunaan metode mengajar yang bervariasi. 

Diferensiasi kurikulum bagi anak gifted dapat dibagi dalam 4 bentuk (Mooij dkk, 2007) yakni:
      1.  Pengkayaan (enrichment): yaitu berupa tawaran ekstra materi pelajaran yang                dimaksudkan untuk pendalaman dan perluasan. 
      2.  Pemadatan atau pemampatan (compacting): yaitu berupa pemampatan materi                pelajaran reguler. Atau dengan kata lain bahwa pelajaran yang diberikan tidak perlu d          ilakukan pengulangan-pengulangan yang memang diperlukan sebagai latihan bagi               anak-anak normal.
      3.  Paruh waktu (part-time) dalam kelompok-plus atau kelas-plus (pull-out): Dimana                dalam kelompok/kelas itu diadakan ekstra aktivitas atau program yang menantang khusus untuk anak-anak gifted. Kegiatan dalam kelompok/kelas plus ini dilakukan beberapa jam dalam satu minggu. Bila anak-anak gifted tersebut membutuhkan kegiatan yang menantang guna memenuhi kebutuhan keberbakatannya, ia dapat sementara waktu keluar dari kelasnya (pull-out), masuk ke dalam kelompok-plus atau kelas-plus tersebut, bersama-sama dengan anak anak gifted lainnya dalam berbagai usia mengerjakan berbagai proyek yang diminatinya. Kelas-kelas seperti ini sering juga disebut Kangaroo-class.
      4.    Percepatan (acceleration): yaitu berupa lompat kelas (Class skipping). Namun percepatan ini membutuhkan beberapa pertimbangan berupa: kematangan sosial emosional, kapasitas intelektual, prestasi, adanya lompatan perkembangan didaktik, persetujuan orang tua, Dalam kurikulum berdifferensiasi dikenal juga tentang matra kurikulum. 

       Matra Merupakan kumpulan kegiatan belajar dasar untuk pengembangan lebih lanjut dan memenuhi kebutuhan ana secara umum, sehingga kurikulum berdiferensiasi ini sebenarnya bertitik tolak pada kurikulum umum yang berlaku bagi semua siswa.                          Pengalaman belajar dari kurikulum umum ini memberikan keterampilan dasar, pengetahuan, pemahaman, nilai dan sikap yang akan memungkinkan seseorang berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Diantara macam  matra tersebut adalah:
         1.    Matra Yang Didiferensiasikan
Berkaitan dengan ciri khas perkembangan anak berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam. Sifatnya terutama memenuhi harapan, kepentingan, tuntutan kebutuhan peserta didik unggul, terutama berkaitan dengan kehidupan kreatifnya
         2.    Matra Subliminal
Matra subliminal ini berkaitan dengan latar belakang budaya yang merupakan konteks pendidikan dan harus ditandai oleh iklim akademis. Iklim akademis, pergaulan antasesama siswa, antarguru dan siswa, guru dan guru, serta kepala sekolah, peraturan disiplin yang berlaku yng memadai interaksi belajar, merupakan suasana yang amat menentukan kualitas belajar.
         3.    Matra non akademis
Dalam upaya agar materi belajar tidak terlalu sempit dan terbatas pada pengetahuan yang disajikan di buku ajar dan kurikulum sekolah, berbagai wahana luar sekolah seperti kegaitan di masyarakat, televise, museum, radio juga harus mendukung matra yang didiferensiasikan. Dai sini dapat digali pembelajaran melalui pengalaman langsung dengan mengemukakan hal-hal yang sebelumnya hanya dibaca.


Nenny Sri Rahayu 
1PA20
Group 1

Senin, 20 April 2015

Kegiatan Belajar dan Mengajar Kreatif

Nama       :Nenny Sri Rahayu
Kelas        :1PA20
Npm         :17514896
Jurusan     :Psikologi


Anggota kelompok diskusi

  • Amellia Damaiyanti
  • Bella Pratiwi
  • Chica Desi Nada
  • DIah Permata
  • Febrika Fitro Turrohma
  • Fitra Faizani Andiana
  • Harini Mahardwiani
  • Machwinda Brilianti
  • Nenny Sri Rahayu
  • Pratiwi Indy Lestari
  • Riezky Juliandra Rizally

Hasil diskusi
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya. Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12).
kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7).
Secara psikoligis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “Belajar juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 : 2).
Menurut kelompok kami, kegiatan belajar dan mengajar kreatif merupakan kegiatan belajar-mengajar dengan proses yang dapat membantu siswa menerima berbagai tanggapan tanpa menghadapi kesulitan, prosesnya pun diiringi beragam inovasi sehingga peserta didik memiliki kemauan dari dalam dirinya untuk terus belajar; melakukan penemuan.
Kegiatan belajar-mengajar kreatif haruslah melibatkan komponen-komponen pengalaman belajar yang paling menyenangkan dan paling tidak menyenangkan, sehingga didapati bahwa pengalaman dalam proses belajar kreatif sangat mungkin berada  di antara pengalaman-penglaman belajar yang sangat menenangkan, pengalaman-pengalaman yang sangat memberikan kepuasan dan sangat bernilai.
Dalam hal ini, kreativitas ditumbuhkan baik dari tenaga didik maupun peserta didik. Kolaborasi dari keduanya akan menghasilkan pembelajaran yang efektif.
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990 : 37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.       Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.

2.       Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.

3.       Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.

4.       Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Dalam proses belajar-mengajar kreatif, harus menggunakan pola pikir yang terbuka, dengan kata lain kita dipaksa untuk berpikir kritis sehingga gagasan-gagasan baru dapat muncul dan menghasilkan inovasi.
Menanggapi hal ini, kelompok kami memiliki gagasan untuk menyusun kegiatan belajar-mengajar sebagai berikut:
1.       Pemanasan
Kegiatan pemanasan meliputi permainan kreatif yang beragam yang disusun sebagai pendahuluan dari tiap-tiap materinya. Kegiatan ini dapat bertempat dimana saja, asalkan memungkinkan untuk mendapatkan properti yang dibutuhkan. Dengan pemanasan ini, diharapkan peserta didik dapat terlebih dahulu memunculkan rasa ingin tahunya.

2.       Diskusi
Setelah melakukan permainan yang menyenangkan, semangat akan terkobar dan timbul rasa ingin tahu. Diskusi ini dimanfaatkan untuk saling bertukar pikiran antar tenaga pendidik dan peserta didik. Berpikir kritis sangat diperlukan dalam proses ini. Perbedaan-perbedaan pendapat yang ditimbulkan akan mengasah kreativitas serta menumbuhkan sikap untuk menghargai pendapat orang lain.

3.       Materi
Setelah membiarkan para peserta didik berdiskusi dan bereksplorasi dengan pikiran serta gagasan-gagasannya, tenaga pendidik meluruskan materi diskusi secara teoritis dengan penjelasan yang logis. Penempatan materi setelah diskusi membuat peserta didik berpikir ulang atas gagasan sebelumnya dan proses ini membuat peserta didik menyerap materi lebih dalam.

4.       Evaluasi
Setelah kegiatan belajar-mengajar usai, dilakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana materi diserap. Dalam proses ini, tenaga pendidik baiknya menekankan pada peserta didik mengenai “apa yang telah dipelajari”, bukan “bagaimana melakukannya”.

5.       Reward & Punishment
Pemberian hadiah serta hukuman dapat memengaruhi proses belajar-mengajar. Alangkah baiknya, jika tenaga pendidik memberikan hadiah pada peserta didik yang dapat melalui evaluasi dengan baik, atau dengan kreatif dapat mengemukakan gagasannya. Hal tersebut memicu semangat serta dapat menjadi motivasi bagi yang lainnya.
Pada dasarnya, apapun yang direncanakan, tidak menutup kemungkinan terhadap munculnya kendala dalam pelaksanaannya. Apabila setelah evaluasi ternyata gagal, maka proses penjelasan materi harus diulangi; begitu terus sampai berhasil.
Namun seperti yang kelompok kami ungkapkan, kolaborasi dari tenaga pendidik serta peserta didik itu sendiri dibutuhkan sehingga pembelajaran menjadi efektif.

Penting untuk memupuk kreativitas dan dikembangkan pada diri seseorang karena dengan berkreasi, seseorang bisa mewujudkan dirinya menjadi lebih baik. Perwujudan diri ini merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Sebuah kreativitas adalah kemampuan untuk melihat berbagai macam kemungkinan tentang penyelesaian akan suatu permasalahan. Suatu kreativitas tidak hanya berguna namun juga memberikan kepuasan baik bagi individu itu sendiri maupun orang lain.

Senin, 06 April 2015

PENGEMBANGAN KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN

Jurusan                        : Psikologi
Kelas                           : 1PA20
Anggota Kelompok    :
·         Amelia Damaiyanti
·         Bella Pratiwi
·         Chica Desi Nada
·         Diah Permata
·         Febrika Fitro T.
·         Fitra Faizani A.
·         Harini mahardwiani
·         Machwinda Brilianti
·         Nenny Sri Rahayu
·         Riezky Juliandra

·         Pratiwi Indy Lestari


Menciptakan Sebuah Inovasi


Nama Barang  : Multifunction Bag

Spesifikasi       :
Ø  Kupluk : terbuat dari parasut, sebagai penutup kepala.
Ø  Smart pocket  : untuk menyimpan barang.
Ø  Mode perahau karet : dengan menarik tali yang tersedia, permukaan tas mengembang dan menjadi perahu. Dengan spasi berbeda untuk menarikbarang sehingga barang di dalam tas tersimpan rapi.
Ø  Dayung  : untuk mendayung
Ø  Mode jas hujan   : dengan menarik tali yang tersedia, permukaan tas terbuka dan dapat digunakan sebagai jas hujan.

Penjelasan       : Berdasarkan minat danhobi yang ditekuni setiap individu, membutuhkan fasilitas yang berbeda  pula. Disini kami mendisain tas untuk individu dengan hobi berpetualang, mendaki, melancong, atau traveler. Tas ini memudahkan pengguna dalam mengantisipasi kendala-kendala yang dikhawatirkan terdapat dalam perjalanan. Selain itu, kami  menggunakan bahan yang anti air dan ringan sehingga mudah dibawa kemanapun.

Sabtu, 07 Maret 2015

Kreativitas menururut Pendekatan 4P(pribadi, pendorong, proses, produk)

kalo di tanya tentang kreativitas pasti setiap orang mempunyai berbagai macam kreativitas yang mana kreativitas tersebut bisa diterima dan diingat oleh orang banyak.

begitu juga dengan saya, meskipum kreativitas tersebut tidak berbentuk melainkan sebuah ide yang mana dapat diingat dan diterima orang banyak.

 waktu itu di kelas 3 SMA saya mendapatkan tugas akhir bermain drama, drama tersebut berjudul cinderella saya berperan sebagai fairy godmother atau biasa kita bilang ibu peri.
melihat dari beberapa kelompok teman-teman saya peran ibu peri  terlihat monoton hanya sekedar mengucapkan dengan kata lemah lembut kemudian berlalu begitu saja, dari situ saya berfikir bagaimana peran yang sangat singkat ini dapat berarti juga seperti peran yang lain dan bagaimana caranya agar penontong tidakmerasa bosan.

dari situ saya ingat saya pernah melihat sebuah kisah yang sama di televisi dimana sang ibu peri sangat periang dan penyayang, nah.. saya ambil saja pribadi tokoh ibu peri tersebut, saya terus berlatih dan terus berlatih dengan dialog "im your fairygodmother..." sambil melentangkan tangan lebar-lebar dengan pengucapan yang ceria dan senyum yang benar-benar bahagia.

sampai waktunya pementasan, saya benar-benar melakukan apa yang telah saya latih sebenarnya ada rasa was-was takut ide saya menjadi garing ga karuan, namun ketika saya lakukan apa yang sudah saya latiht ernyata  diluar dugaan saya, penonton tertawa dan sesudah drama tersebut kelompok saya mendapatkan feedback yang bagus dari penonton dan guru yang mengadakan tes ini, feedback tersebut selain karna tokoh yang lain juga bagus ditambah dengan peran yang saya perankan.

guru yang mengadakan tes ini berkata bahwa peran saya bagus, dan menurut teman-teman saya yang saya lakukan cukup menghibur sehingga membuat merekatertawa

hingga sudah berlalu drama ini drama kelompok saya masih sering dibicarakan karna satu hal kecil yang saya kembangkan, mungkin kreativitas ini tidak  seberapa dengan kreativitas yang lain tapi saya merasa  senang dari hal kecil ini saya dan kelompok saya bisa menghibur penonton dan menjadikan drama ini tidak terlupakan...


Jumat, 06 Maret 2015

Pengantar Kreativitas dan Keberbakatan

Hasil diskusi kelompok 1
1PA20

1. kelompok kami setuju bahwa anak laki-laki memiliki kreativitas lebih besar di banding anak perempuan . terutama setelah berlalu nya masa kanak-kanak , hal ini di sebabkan perbedaan lingkungan antara anak laki-laki dan perempuan pada masa kecil nya. ketika otak anak masih di gunakan dengan seimbang perempuan menunjuk kan prestasi yang lebih menonjol di banding laki-laki karena tabiat nya yang rajin dan ke egoisan untuk menjadi unggul . sedangkan melewati masa kanak-kanak, anak laki-laki memiliki kehidupan yang cenderung lebih bebas dari perempuan yang secara tidak langsung memoret pengalaman-pengalaman lebih banyak dari perempuan . banyak nya aktivitas bermain pun seperti bola, musik dan olahraga memicu aktivitas otak kanan pada anak laki-laki dimana otak kanan merupakan titik anjak kreativitas. sifat berani yang lebih menonjol pada anak laki-laki juga mempengaruhi kreativitas dari segi pengambilan keputusan dan penciptaan inovasi.

2. kelompok kami menyatakn bahwa individu dengan tingkat ekonomi yang rendah memiliki kreativitas yang lebih tinggi hal tersebut di karenakan ada nya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan. dalam kondisi tersebut individu dengan strata sosial menengah ke bawah akan mencari cara untuk dapat bertahan hidup mulai dari cara yang sederhana hingga kompleks sekalipun. pengalaman untuk bertahan hidup tersebut memacu pola pikir individu yang memandang dari multi sudut pandang juga menerka posibilitas yang dapat terjadi, hal tersebut tentu memicu kreativitas individu lain hal nya dengan individu yang berstatus sosial ekonomi menengah ke atas dengan hidup yang cukup mereka tertunjang namun luput dari inovasi mereka sangat mungkin lebih pintar; memiliki pendidikan lebih tinggi namun tidak menjamin kreativitas nya.

3. kelompok kami menyatakan bahwa anak dari berbagai urutan kelahiran sangat di pastikan memiliki kreativitas yang berbeda. seperti manusia, lingkungan pun bersifat fluktuatif, pasti senantiasa berubah-ubah hal tersebut memengaruhi pertumbuhan janin dalam rahim sang bunda; bagaimana kondisi fisik serta psikis yang di alami ibu setelah anak di lahirkan pun tak mungkin satu anak dengan yang lain nya menerima perlakuan yang sama. rangsangan yang beda pasti menimbulkan efek yang beda pada tiap - tiap anak serta pola pikir merreka dalam respon merespon rangsangan tersebut. hal tersebut memicu kreativitas yang berbeda pula pada individu nya.