- Keberbakatan dan Kreativitas
1. Jelaskan pengertian keberbakatan!
2. Jelaskan pengertian kreativitas!
3. Jelaskan hubungan pengertian keberbakatan dan kreativitas!
B. Pembelajaran Anak Berbakat
1. Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri anak berbakat!
2. Jelaskan penerapan pembelajaran anak berbakat menurut teori Barbe &
Renzulli!
3. Jelaskan mengenai kegunaan kurikilum berdiferensiasi dan apa perbedaannya
dengan kurikulum yang umum!
A.
1. Keberbakatan
adalah kemampuan unjuk kerja yang tinggi di dalam aspek intelektual,
kreativitas, seni, kepemimpinan atau bidang akademik tertentu. Dalam konsep
luas dan terpadu, keberbakatan merupakan kecakapan intelektual superior, yang
secara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademiak di dalam
kelompok populasinya dan atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu, seperti
matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan sosial dan perilaku kreatif tertentu
dalam interaksidengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu
ditampilkan secara konsisten.
2. Banyak
buku yang membahas kreativitas, kelompok kami akan menyampaikan beberapa
pendapat para ahli tentang kreativitas, yaitu:
a. Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta atau daya
cipta. (K B B I)
b. Kreativitas adalah pengalaman mengekpresikan dan mengaktualisasikan
identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri,
dengan alam, dan dengan orang lain. (Clark Moustatis)
c. Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberi gagasan baru
yang menerapkannya dalam pemecahan masalah. (Conny R. Semiawan).
d. Kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan
diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang
,kecenderungan untuk mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme
(Rogers).
e. Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil
yang sifatnya:
Baru (novel): inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh,
mengejutkan.
Berguna (useful): lebih enak , lebih praktis, mempermudah, memperlancar,
mendorong, mengembangkan, memdidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan,
mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/ banyak.
Dapat
dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat
di lain waktu. (David Cambell)
Dari beberapa
uraian definisi di atas dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada intinya
merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa
gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk cirri-ciri aptitude maupun non
aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada,
yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan yaitu yang
berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan/ menjawab masalah,
dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif (Utami Munandar: 1992)
Kreativitas menurut Guilfird (1956) dapat dinilai dari ciri-ciri aptitude
seperti kelancaran, fleksibilitas dan orisinalitas, maupun ciri-ciri non
aptitude antar lain tempramen, motivasi, serta komitmen menyelesaikan
tugas.
3. Hubungan
Keberbakatan & Kreativitas
Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan
bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah
keterkaitan antara :
1. Kemampuan
umum di atas rata – rata,
2. Kreativitas
di atas rata – rata, dan
3. Pengikatan
diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi)
- Kemampuan diatas rata – rata
Salah satu
kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya
kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang
menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman (
1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria
inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi
tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan
bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan
potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah
“ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh
tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir
kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial,
kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan
salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
- Kreativitas diatas rata -rata
Kelompok (
cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai
kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan
memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan
masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan – hubungan
baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
Pengikatan
diri terhadap tugas Kelompok
karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif
ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang
mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun
mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas
tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton
meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “,
namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras
merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari
definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai
persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi (
pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut
definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi
seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas
B.
1. a. Membaca lebih cepat dan lebih banyak
b. Memiliki
perbendaharaan kata yang lebih luas
c. Mempunyai
rasa ingin tahu yang kuat
d. Mempunyai
minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa
e. Mempunyai
inisiatif dan dapat bekerja sendiri
f. menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
g. Memberi
jawaban-jawaban yang baik
h. Dapat
memberikan banyak gagasan
i. Luwes
dalam berpikir
j. Terbuka
terhadaprangsangan-rangsangan dari lingkungan
k. Mempunyai
pengamatan tajam
l. Berpikir
kritis, juga terhadap diri sendiri
m. Senang
mencoba hal-hal yang baru
n. Berperilakuterarah kepada tujuan
o. Mempunyai
banyak kegemaran
p. Tidakcepatpuas dengan prestasinya
q. Peka
(sensitive) dan menggunakan firasat (intuisi)
r. Menginginkan
kebebasan dalam gerakan dan tindakan
2. a. Percepatan (akselerasi)
Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih
tinggi (skipping). Sesuai dengan keadaannya di mana usia mental (mental age)
pada anak berbakat lebih tinggi dari usia sebenarnya (cronological age), maka
mudah timbul perasaan tidak puas belajar bersama dengan anak-anak lain
seumurnya. Meskipun banyak aspek perkembangan lain pada anak ternyata memang
lebih maju dari pada anak-anak seumurnya, misalnya aspek sosial, akan tetapi
cara percepatan dengan meloncatkan anak pada kelas-kelas yang yang lebih
‘tinggi dianggap kurang baik, antara lain karena mempermudah timbulnya’
masalah-masalah penyesuaian, baik disekolah, di rumah maupun di lingkungan
sosialnya. Percepatan yang diberikan kepada anak berbakat untuk menyelesaikan
bahan pelajaran dalam waktu yang lebih singkat sesuai dengan kemampuannya yang
istimewa.
b. Pendidikan dalam Kelompok khusus
1) Model A
Kelas bisaa penuh ditambah kelas khusus (mini).
Cara ini bisa dilakukan disetiap sekolah karena anak berbakat mengikuti secara
penuh acara di sekolah dan setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dalam
kelas khusus. Waktu belajarnya bertambah dan mata pelajaran dasar atau yang
berhubungan dengan kemampuan khusus (misalnya matematika) ditambah.
2) Model B
Pada model ini anak mengikuti kelas bisaa tetapi
tidak seluruhnya (bisa 75%, 60%, 50%) dan ditambah dengan mengikuti kelas
khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini menguntungkan anak sehingga ia
masih mempunyai waktu untuk melakukan dalam mengembangkan aspek-aspek
kepribadiannya.
3) Model C
Pada model ini semua anak berbakat dimasukan
dalam kelas secara penuh. Kurikulum dibuat secara khusus demikian pula
guru-gurunya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana
pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas
khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri
sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem evaluasi dan
pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
4) Model D
Pada model ini, merupakan sekolah khusus yang
hanya mendidik anak berbakat. Dari sudut administrasi sekolah jelas mudah
diatur. Tapi dari sudut anak banyak kerugiannya karena dengan mengikuti
pendidikan sekolah khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya dan
menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa.
c.Home-schooling (pendidikan non formal di luar
sekolah).
Cara lain yang dapat ditempuh selain model
akselerasi adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah atau di luar sekolah,
yang sering disebut home-schooling. Dalam home-schooling orang tua atau tenaga
ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat
istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali
ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang
cocok dengan tingkat perkembangannya.
d. Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional
dengan pendekatan individual.
Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas
harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual
masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak
didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat
maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak
lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai
dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai
bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini
menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang
berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya.
3. Kurikulum Berdifferensiasi
Istilah diferensiasi dalam pengertian kurikulu
menunjuk pada kurikulum yang tidak berlaku umum, melainkan dirancang khusus
untuk kebutuhan tumbuh kembang bakat tertentu. Pengembangan kurikulum
berdiferensiasi terutama menunjuk seuatu kebutuhan berkenan dengan tumbuh
kembangnya kreatifitas seseorang. Berbeda dengan kurikulum reguler yang berlaku
bagi semua siswa, kurikulum berdiferensiasi bertujuan untuk menampung
pendidikan berbagai kelompok belajar, termasuk kelompok siswa berbakat. Melalui
program khusus, siswa berbakat akan memperoleh pengayaan dari materi pelajaran,
proses belajar dan produk belajar.
Clendeing&davies (1983) menjelaskan bahwa
yang dimaksud differentiated adalah isi pelajaran yang menunjuk pada konsep dan
proses kognitif tingkat tinggi, strategi instruksional yang akomodatif dengan
gaya belajar anak berbakat dan rencana yang memfasilitasi kinerja siswa.
Dalam kurikulum berdifferensiasi terdapat
beberapa komponen yang harus ada diantaranya:
1. Materi pengalaman belajar
yang menumbuhkan kreatifitas harus dipilih untuk digemukkan dan dipadatkan
dengan cara:
2. Menambah bagian-bagian baru
yang menarik dan merupakan tantangan bagi siswa berbakat
3. Mengubah bagian-bagian yang
kurang sesuai
4. Mengurangi
kegiatan-kegiatan yang rutin dan bersifat mengulang
5. Terjadinya penanjakan
dinamis mental dan tindakan kreatif (creative action)
6. Berorientasi pada proses,
kegiatan aktif dan penerapan tugas, serta memberi peluang kepada siswa untuk
memilih sendiri kegiatan belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya
7. Komponen yang bersifat
tekhnis, seperti fasilitas, komposisi guru, pendekatan proses belajar mengajar
dan penggunaan metode mengajar yang bervariasi.
Diferensiasi kurikulum bagi anak gifted dapat
dibagi dalam 4 bentuk (Mooij dkk, 2007) yakni:
1. Pengkayaan (enrichment):
yaitu berupa tawaran ekstra materi pelajaran yang dimaksudkan untuk pendalaman
dan perluasan.
2. Pemadatan atau pemampatan
(compacting): yaitu berupa pemampatan materi pelajaran reguler. Atau dengan
kata lain bahwa pelajaran yang diberikan tidak perlu d ilakukan pengulangan-pengulangan
yang memang diperlukan sebagai latihan bagi anak-anak normal.
3. Paruh waktu (part-time)
dalam kelompok-plus atau kelas-plus (pull-out): Dimana dalam kelompok/kelas itu
diadakan ekstra aktivitas atau program yang menantang khusus untuk anak-anak
gifted. Kegiatan dalam kelompok/kelas plus ini dilakukan beberapa jam dalam
satu minggu. Bila anak-anak gifted tersebut membutuhkan kegiatan yang menantang
guna memenuhi kebutuhan keberbakatannya, ia dapat sementara waktu keluar dari
kelasnya (pull-out), masuk ke dalam kelompok-plus atau kelas-plus tersebut,
bersama-sama dengan anak anak gifted lainnya dalam berbagai usia mengerjakan
berbagai proyek yang diminatinya. Kelas-kelas seperti ini sering juga disebut
Kangaroo-class.
4. Percepatan (acceleration):
yaitu berupa lompat kelas (Class skipping). Namun percepatan ini membutuhkan
beberapa pertimbangan berupa: kematangan sosial emosional, kapasitas
intelektual, prestasi, adanya lompatan perkembangan didaktik, persetujuan orang
tua, Dalam kurikulum berdifferensiasi dikenal juga
tentang matra kurikulum.
Matra Merupakan kumpulan kegiatan belajar dasar untuk
pengembangan lebih lanjut dan memenuhi kebutuhan ana secara umum, sehingga
kurikulum berdiferensiasi ini sebenarnya bertitik tolak pada kurikulum umum yang
berlaku bagi semua siswa. Pengalaman belajar dari kurikulum umum ini memberikan
keterampilan dasar, pengetahuan, pemahaman, nilai dan sikap yang akan
memungkinkan seseorang berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat. Diantara
macam matra tersebut adalah:
1. Matra Yang
Didiferensiasikan
Berkaitan dengan ciri khas perkembangan anak
berbakat dan merupakan kurikulum yang dikembangkan secara mendalam. Sifatnya
terutama memenuhi harapan, kepentingan, tuntutan kebutuhan peserta didik
unggul, terutama berkaitan dengan kehidupan kreatifnya
2. Matra Subliminal
Matra subliminal ini berkaitan dengan latar
belakang budaya yang merupakan konteks pendidikan dan harus ditandai oleh iklim
akademis. Iklim akademis, pergaulan antasesama siswa, antarguru dan siswa, guru
dan guru, serta kepala sekolah, peraturan disiplin yang berlaku yng memadai
interaksi belajar, merupakan suasana yang amat menentukan kualitas belajar.
3. Matra non akademis
Dalam upaya agar materi belajar tidak terlalu
sempit dan terbatas pada pengetahuan yang disajikan di buku ajar dan kurikulum
sekolah, berbagai wahana luar sekolah seperti kegaitan di masyarakat, televise,
museum, radio juga harus mendukung matra yang didiferensiasikan. Dai sini dapat
digali pembelajaran melalui pengalaman langsung dengan mengemukakan hal-hal
yang sebelumnya hanya dibaca.
Nenny Sri Rahayu
1PA20
Group 1